Beranda > Berita

Komunitas Peduli Asli untuk Menekan Peredaran Barang Palsu

Jakarta, 22Desember 2009 -Peredaran barang-barang palsu masih terbilang tinggi di Indonesia. Hasil studi Dampak Ekonomi yang dilakukan beberapa waktu lalu untuk 12 sektor industri dan dilakukannya pemusnahan 2,18 juta keping produk cakram optik oleh Polda Metro Jaya 15 Desember lalu membuktikan bahwa pasar Indonesia masih menjadi surga bagi barang-barang palsu dan barang bajakan. Untuk itu segala upaya untuk menekan peredaran barang-barang palsu harus terus dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan, baik oleh aparat penegak hukum maupun oleh masyarakatyang peduli atas keaslian suatu produk yang akan dikonsumsinya.

Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) berdiri di garis paling depan untuk memulai upaya-upaya menekan peredaran barang-barang palsu di republik ini. Salah satu upaya MIAP mensosialisasikan pentingnya melindungi masyarakat dari produk palsu adalah dengan membentuk Komunitas Peduli Asli yang dalam sehari-harinya komunitas inibisa saling bertukar informasi melalui situsnya www.peduliasli.com.

”Pembentukan komunitas masyarakat peduli asli serta situs www.peduliasli.com merupakan wujud peran aktif masyarakat atas upaya menekan peredaran barang palsu dan diharapkan dapat mendorong jalannya gerakan anti pemalsuan.Masyarakat sebagai pengguna akhir dari suatu produk sangat berpotensi menjadi korban dari peredaran barang palsu tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut MIAP siap bekerjasama dengan pemerintah untuk mendorong tindak penanggulangan pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), khususnya pemalsuan,” kata Ketua Umum MIAP, Widyaretna Buesnastuti disela-sela launching Komunitas Peduli Asli di Jakarta, Selasa 22 Desember2009.

Dia menambahkan, tindakan pemalsuan tak hanya merugikan industri dan konsumen, tapi juga negara. Hasil studi MIAP dengan LPEM FEUI terhadap 12 sektor industri pada periode 2002-2005, menyebutkan, tindakan pemalsuan di industri sepatu, tekstil, pakaian jadi, rokok, dan pestisida selama periode tersebut menimbulkan kerugian mencapai Rp 4,4 triliun. Ini belum termasuk pemalsuan terhadap produk software yang menimbulkan kerugian Rp 3,6 triliun. Kegiatan pemalsuan di 12 bidang industri tersebut telah pula menghilangkan potensi lapangan pekerjaan sebanyak 124 ribu.

Selanjutnya, hasil penyitaanbarang bajakan oleh Polda metro jaya sepanjang 2009 juga telah merugikan negara sekitar Rp 7,1 triliun dari komponen pajak saja.

Sementara itu, Tim NasionalPenanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (Timnas PPHKI) mencatat,pihak kejaksaan telah menuntut  65 kasuspelanggaran di bidang HKI sepanjang perode Januari – Juni 2009. Denganrincian, 45 kasus di bidang hak cipta,17 kasus di bidang merek, dan 3 kasus di bidang paten.  Sebanyak 6 kasus sudah  memperoleh putusan pengadilan dan sisanya, 59kasus, masih dalam proses pengadilan.

“Sedangkan untuk kasus HKI yang telah ditangani Polri berjumlah 146. Sebanyak 29 kasussudah dilimpahkan ke kejaksaaan untuk dilakukan penuntutan (berstatus P21), 1 kasus diserahkan kembali ke Polri karena belum lengkap (berstatus P19), dan 2 kasus dihentikan penyidikannya karena tak cukup bukti (SP3),” ujar Sekretaris Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (PPHKI) Andi NSommeng yang juga Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM.

Melalui komunitas peduli asli ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang paham dan peduli terhadap akibat serta dampak-dampak negatif baik langsung maupun tidak langsung dari penggunaan produk palsu. Presenter Becky Tumewu mencontohkan, bahwa dirinya berupaya konsisten menggunakan produk asli untuk segala jenis produk terlebih produk kosmetik. 

“Jika kita memakai kosmetik palsu, kita tidak tahu akibat yang ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam produkpalsu tersebut. Hanya karena tergiur oleh selisih harga yang lebih murah, malah mengakibatkan kerusakan yang fatal pada kulit. Saya sendiri selalu memastikan hanya memakai produk kosmetik untuk perawatan wajah dan kulit yang asli,” papar Becky.

 

Definisi Pemalsuan

Ketua Umum MIAP Widyaretna menjelaskan, istilah pemalsuan telah digunakan secara luas. Pemalsuan adalah memproduksi suatu produk yang menyalin atau meniru penampakan fisik suatuproduk asli sehingga menyesatkan para konsumen bahwa ini adalah produk dari pihak lain. Produk yang melanggar merek dagang, pelanggaran hak cipta, peniruankemasan, label dan merek merupakan bagian dari pemalsuan. 

Penggolongan barang palsu menurut para ahli bisa dibedakan menjadi 4 golongan, berdasarkan pada tingkat pelanggaran, yaitu: 

1.   Produk Palsu Sejati (True Counterfeit Product)

2.    Produk Palsu yang Tampak Serupa(Look-Alike)

3.    Reproduksi

4.    Imitasi yang Tak Meyakinkan

 

Tapi ada juga penggolongan lainyang berdasarkan konsumen tentang produk yang bersangkutan, yakni:

1.   Deceptive Counterfeiting (Pemalsuan yang bersifat memperdayai)

2.   Non-DeceptiveCounterfeiting (Pemalsuan yang tidak bersifat memperdayai

 

MIAP adalah adalah organisasi yang terdiri dan dibentuk oleh pemilik Hak Kekayaan Intelektual,khususnya merek yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap tindakan pemalsuan di Indonesia.  Organisasi yang dibentuk 2003 ini memiliki objektif, salah satunya, meningkatkan kegiatan edukasi dan sosialisasi mengenai bahaya dan kerugian atas peredaran barang atau produk palsu .

Saat ini MIAP mempunyai anggota  sebagai berikut: Pfizer Indonesia, EPSON Indonesia, Unilever, Oakley Indonesia, Louis Vuitton Moet Hennessey, Nestle Indonesia, Aqua Danone, Procter & Gamble Home Products Indonesia (P&G), International Pharmaceutical Manufactures Group, Shell Indonesia, British Petroleum (BP), Bintang Toedjoe dan Quicksilver Indonesia.

 

Kontak:

 

Sekretariat MIAP : 021 – 726 8564