Beranda > Berita

Peredaran Pelumas Palsu Makin Marak: Konsumen Menderita, Negara Rugi Hingga Puluhan Milyar Rupiah

Peredaran pelumas (oli) palsu di masyarakat, baik untuk otomotif maupun mesin, menunjukkan tren yang meningkat. Berdasarkan data lapangan, di tahun 2008 ini, pemalsuan telah mencapai 40 – 50 persen. Para pemalsu ini tidak hanya memalsukan produk pelumas buatan dalam negeri saja, namun juga beberapa pelumas impor yang laku di pasaran. Modus pemalsuan juga makin beragam. Mulai dari melakukan pencampuran pelumas asli dengan bahan adiktif, mengolah atau memasak kembali pelumas bekas, hingga mengemas pelumas palsu dengan menggunakan kaleng bekas suatu label terkenal ataupun menempeli kemasan dengan stiker registrasi palsu.

Aparat keamanan sendiri, terus menggencarkan razia untuk mencegah semakin meluasnya peredaran pelumas palsu di masyarakat. Selama tiga bulan terakhir, pihak Kepolisian telah melakukan penggerebekan ke sejumlah target di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Razia terpadu atas sedikitnya tujuh tempat ini berhasil menyingkap jaringan besar pembuat dan pengedar oli palsu. Para pembuat dan distributor pelumas palsu ini melakukan proses produksi dan operasi dengan sangat rapi. Hasil operasi pihak kepolisian menunjukkan bahwa semua jenis pelumas dari seluruh merek yang ada telah dipalsukan; meskipun memang kuantitas jenis pelumas yang dipalsukan sejalan dengan besarnya permintaan pasar atas produk – produktersebut.

Brett McGuire, Konsultan Internasional untuk beberapa perusahaan pelumas tidak menampik makin maraknya peredaran pelumas palsu dimasyarakat, dimana pelumas untuk mesin tampaknya lebih banyak diincar karena dari sisi keuntungan lebih menjanjikan. Berdasarkan perkembangan situasi, Brett McGuire menyatakan,”Cara terbaik bagi perusahaan maupun konsumen perorangan agar yakin bahwa produk pelumas yang mereka beli asli adalah dengan cara membelinya di  toko –toko ataupun distributor yang memiliki otorisasi resmi. Bahkan apabila masih belum yakin, tidak usah ragu untuk mengontak produsen pelumas tersebut secara langsung.”

Menurut Studi yang dilakukan LPEM FEUI dan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP)di tahun 2005 - berdasarkan data tahun 2002 - total kerugian dari sisi nilai ekonomis akibat pemalsuan, khusus untuk produk pelumas otomotif serta mesin telah mencapai lebih dari 50 milyar rupiah serta hilangnya kesempatan kerja untuk ratusan orang. Oleh karena itu, MIAP menegaskan bahwa masalah PEMALSUAN bukan sekedar merupakan kasus pelanggaran UU Merek saja. Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal MIAP, Justisiari P. Kusumah menyatakan,MIAP siap bekerja sama dengan pihak – pihak yang berkepentingan untuk mengatasi masalah pemalsuan secara lebih tegas, karena kerugian akibat produk – produk palsu jelas bukan hanya diderita perusahaan, tetapi juga negara dari sisi penerimaan pajak dan cukai, serta konsumen yang justru sangat mungkin memperoleh dampak negatif yang paling fatal.”

Jakarta, 17 Desember 2008

Kontak:

Sekretariat MIAP : 021 – 726 8564