Beranda > Berita

Produk Kosmetik Palsu Kembali Marak: MIAP Ingatkan Masyarakat untuk Teliti Sebelum Membeli

 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menarik 70 produk kosmetik yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Diantara kandungan bahan kimia berbahaya itu adalah Asam Retinoat/Tretinoin/Retinoic Acid, bahan pewarna Merah K.3 (Cl 15585), Merah K.10 (Rhodamin B) dan Jingga K.1 (Cl12075) yang merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zatwarna kertas, tekstil atau tinta. Bahan-bahan kimia tersebut, merupakan zat karsinogenik penyebab kanker, bahkan Rhodamin B dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati.

Dari sejumlah produk kosmetik berbahaya itu, terdapat merek produk kosmetika ternama yang dipalsukan yaitu Pond’s dan Olay, merek kosmetik keluaran Unilever dan P & G yang menjadi anggota Asosiasi Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP). Pond’s palsu mengandung zat merah K3 dan K10. Sedangkan Olay palsu mengandung zat merah K10. Kedua produk yang mencatut merek terkenal itu,juga  tidak terdaftar di BPOM.

Head of Corporate Communications PT. Unilever Indonesia, Tbk., Maria D. Dwianto memastikan bahwa produk kosmetik berlabel Pond’s yang tercantum dalam daftar 70 kosmetik berbahaya yang dirazia BPOM adalah produk palsu dan tidak diproduksi oleh Unilever. “Sebaiknya masyarakat lebih berhati-hati saat membeli produk kosmetik. Pastikan produk kosmetik tersebut asli. Perhatikan harga jualnya, kondisi kemasan dan isi produk, apakah sesuai dengan yang biasa dipakai. Kepada pemilik toko, kami himbau agar selalu memeriksa tanda registrasi BPOM, nama produsen pada kemasan produk serta kondisi kemasan produk,” papar Maria Dwianto.

Sementara, PT. Procter& Gamble Home Products Indonesia (P&G Indonesia) menyambut positifl angkah penertiban produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya yang dilakukan oleh BPOM. Produk Olay palsu yang beredar di pasaran adalah Olay 4 in1 Complete Make Up, Olay Krim Pemutih dan Olay Total White. External Relations Director P&G Indonesia, Bambang Sumaryanto menegaskan bahwa P&G tidak pernah memproduksi atau mengedarkan ketiga jenis Olay tersebut,“Olay Total White (TW) yang saat ini resmi diedarkan oleh P&G Indonesia hanya 2 jenis saja yaitu Olay TW Extra Fair Cream dan Olay TW Spot Lightening Cream, sedangkan Olay TW Cream sudah tidak dijual lagi sejak lebih dari setahun yang lalu.” Lebih lanjut, Bambang menghimbau agar konsumen hanya membeli produk Olay yang memiliki nomor izin edar BPOM sehingga terjamin keaslian dan keamanannya.

Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat serta kurangnya kontrol dan penerapan hukum membuat produk-produk berbahaya itu dapat tersebar luas. Teknologi pencetakan yang semakin maju hingga mampu menduplikat kemasan produk secara detil juga membuat kejahatan ini makin berkembang. Ironisnya, produk kosmetik palsu ini umumnya mengancam masyarakat kalangan bawah yang lebih rentan terhadap iming – iming kecantikan dengan harga miring. Padahal, dampak terhadap kesehatan yang akan timbul tentunya jauh lebih mahal.

Beberapa modus yang acap kali dilakukan para pemalsu adalah:

Ketua Umum Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), Widyaretna Buenastuti menyatakan perlunya masyarakat ekstra hati-hati dalam membeli produk kosmetik dan jangan hanya tergiur karena harganya yang murah. Ketelitian akan isi, kemasan, dan adanya nomor registrasi dari BPOM harus pula dilakukan. Widyaretna menambahkan,’’MIAP menghargai upaya yang telah dilakukan oleh instansi berwenang terhadap peredaran berbagai jenis produk palsu, termasuk kosmetik. Apalagi, masalah pemalsuan bukan sekedar merupakan kasus pelanggaran UU Merek saja, namun juga memiliki dampak negatif, baik yang berakibat pada kesehatan maupun pada pengurangan penerimaan negara.’’

Menurut data dari MIAP berdasarkan studi yang dilakukan LPEM FEUI pada tahun 2005 dengan menggunakan data tahun 2002, kerugian dari sisi ekonomis akibat pemalsuan produk daily care/kosmetik (parfum, sampo, lipstick, sabun, dan produk lain untuk perawatan tubuh) berkisar antara 50 – 400 miliar rupiah, dan hilangnya kesempatan kerja bagi ribuan orang.

Jakarta, 19Juni 2009

 Kontak :

Sdr. Rizky Megantoro (Communication Officer) : 021 – 726 8564 / 081317016161 / 0852 17000481