Beranda > Berita

Produk Palsu bagi Kendaraan Bermotor Berkontribusi pada Kecelakaan Lalu Lintas

Berita kecelakaan lalu lintas mendominasi pemberitaan media pada pekan – pekan terakhir ini. Bahkan kini tercatat, sedikitnya 82 orang luka-luka hingga meninggal dunia setiap hari karena kecelakaan lalu lintas. Berarti per tahunnya ada sekitar 30 ribu jiwa luka dan/atau meninggal dunia. Data Kepolisian RI yang dilansir Departemen Perhubungan memperlihatkan bahwa angka kecelakaan pada tahun 2003 melibatkan sekitar 19 ribu unit kendaraan. Di tahun 2004, menunjukkan angka 26 ribu unit, dan bahkan pada akhir tahun 2006 mencapai sekitar 70 ribu unit!

Banyak sebab terkait peningkatan jumlah kecelakaan jalan raya di Indonesia. Bukan hanya faktor kesalahan manusia (human error) serta ketidakdisiplinan dalam berlalu lintas, namun juga faktor keamanan kendaraan itu sendiri. Faktor keamanan dan kelaikan kendaraan tentu saja sangat ditentukan oleh kelaikan suku cadang yang digunakan. Sebenarnya hanya suku cadang dan pelumas yang memenuhi standard industri dan keamanan yang boleh dijual dan diedarkan ke masayarakat. Faktor suku cadang serta pelumas yang telah terstandarisasi inilah yang disinyalir Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) sering dilupakan oleh masyarakat, namun sebenarnya turut memberikan kontribusi pada angka kecelakaan. Sinyalemen ini bukannya tanpa dasar, tetapi merujuk pada hasil Studi yang dilakukan LPEM yang dikeluarkan tahun 2005. Dalam studi yang didasarkan pada data tahun 2002 tersebut, tingkat peredaran suku cadang dan oli palsu masing-masing mencapai 10% dan 15% dengan potensi kerugian kotor berkisar Rp 788 milyar lebih. Semetara data dari para produsen menunjukan bahwa penjualan suku cadang serta oli palsu terus meningkat, seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan di Indonesia. Ketua Umum MIAP, Bambang Sumaryanto menyatakan,”Maraknya penggunaan produk – produk palsu bagi kendaraan bermotor jelas sangat meresahkan dan membahayakan. Oleh karena itu MIAP sangat menghargai upaya produsen yang selalu menggalakkan kampanye penggunaan suku cadang asli yang memenuhi standar keamanan. Hal ini sangat penting sebagai bagian dari proses edukasi masyarakat, bahwa masalah keamanan jauh lebih penting dibandingkan selisih harga yang dinikmati.”

Studi yang dilakukan LPEM UI tersebut, merupakan studi yang khusus dilakukan untuk mengetahui dampak ekonomi makro akibat peredaran barang palsudi 12 sektor industri. Total kerugian negara akibat pemalsuan di 12 sektor yang mencapai sedikitnya 2,1 Triliun Rupiah pada Produk Domestik Kotor Indonesia dan hilangnya lebih dari 124 ribu lapangan kerja. Padahal, nilai ini belum memperhitungkan kerugian yang diderita, baik yang sifatnya fisik maupun non fisik. Berarti, jelas sebenarnya angka ini hanyalah puncak gunung es dari total kerugian atas peredaran produk – produk palsu di Indonesia. Oleh karena itu, MIAP menganggap perlunya mengatasi masalah PEMALSUAN secara lebih tegas dan komprehensif. Korban produk – produk palsu bukanlah hanya kalangan dunia usaha, namun juga pemerintah serta masyarakat, dari kelas bawah hingga kelas atas.

Jakarta, 27 Juli 2007

Kontak:
• Sdri. IGA Rastradewi (Communication Officer) – 0813 10175962